3.
Pantun, Puisi dan Legawa
PANTUN, aku pahami sebagai puisi
asli anak negeri bangsa-bangsa rumpun Melayu. Bangsa-bangsa rumpun melayu
adalah Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura. Demikian Abah
menjelaskannya. Pantun katanya merupakan puisi
lama. Pantun sering juga diartikan sebagai puisi Indonesia atau Melayu,
yang tiap bait atau kuplet-nya
terdiri atas empat baris bersajak (a-b–a-b). Setiap larik biasanya berjumlah
empat kata. Baris pertama dan kedua biasanya berperan sebagai tumpuan atau
sampiran. Sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Pantun
memiliki ragam-ragam seperti, pantun berkait, pantun kilat, pantun rantai. Pantun berkait adalah pantun yang
diucapkan atau dibacakan sambung menyambung antara larik kedua dan keempat bait
pertama muncul lagi sebagai larik pertama dan ketiga bait berikutnya. Pantun
berkait dinamakan juga pantun rantai. Pantun
kilat, adalah pantun yang hanya terdiri atas dua baris yang bersajak (a-a),
masing-masing merupakan sampiran dan isi. Pantun kilat memiliki sebutan lain
yaitu karmina. Karmina merupakan
pantun kilat dua seuntai. Baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua
sebagai isi yang berupa sindiran dengan rumus rima (a-a).
Misal
kayu lurus
dalam lalang
kerbau
kurus banyak tulang
Pantun
yang bersajakan (a-a) kata abah adalah pantun yang telah menjelma menjadi
syair. Peristiwa ini disebabkan oleh pengaruh sastra Arab. Akan halnya puisi
modern merupakan puisi bebas yang tidak terikat bunyi. Puisi modern dinamakan
juga sanjak. Sanjak terlahir dari
perkembangan jaman dan pengaruh dari bangsa Eropa.
Pantun dan Puisi merupakan bagian dari
kesusastraan Indonesia bahkan
bangsa-bangsa Melayu. Lalu apa yang dimaksud dengan kesusastraan itu, bah? Abah
memahami kesusasteraan sebagai sebuah karya yang indah dengan menggunakan
kata-kata atau gaya bahasa tertentu. Karya yang indah baik dilihat dari keaslian,
isi maupun cara mengungkapkannya. PELAB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar