Sabtu, 13 September 2014

3.Pantun, Puisi dan Legawa



3.
Pantun, Puisi dan Legawa




PANTUN, aku pahami sebagai puisi asli anak negeri bangsa-bangsa rumpun Melayu. Bangsa-bangsa rumpun melayu adalah Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura. Demikian Abah menjelaskannya. Pantun katanya merupakan puisi lama. Pantun sering juga diartikan sebagai puisi Indonesia atau Melayu, yang tiap bait atau kuplet-nya terdiri atas empat baris bersajak (a-b–a-b). Setiap larik biasanya berjumlah empat kata. Baris pertama dan kedua biasanya berperan sebagai tumpuan atau sampiran. Sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi.
          Pantun memiliki ragam-ragam seperti, pantun berkait, pantun kilat, pantun rantai. Pantun berkait adalah pantun yang diucapkan atau dibacakan sambung menyambung antara larik kedua dan keempat bait pertama muncul lagi sebagai larik pertama dan ketiga bait berikutnya. Pantun berkait dinamakan juga pantun rantai. Pantun kilat, adalah pantun yang hanya terdiri atas dua baris yang bersajak (a-a), masing-masing merupakan sampiran dan isi. Pantun kilat memiliki sebutan lain yaitu karmina. Karmina merupakan pantun kilat dua seuntai. Baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi yang berupa sindiran dengan rumus rima (a-a).
Misal
 kayu lurus dalam lalang
kerbau kurus banyak tulang
          Pantun yang bersajakan (a-a) kata abah adalah pantun yang telah menjelma menjadi syair. Peristiwa ini disebabkan oleh pengaruh sastra Arab. Akan halnya puisi modern merupakan puisi bebas yang tidak terikat bunyi. Puisi modern dinamakan juga sanjak. Sanjak terlahir dari perkembangan jaman dan pengaruh dari bangsa Eropa.
          Pantun dan Puisi merupakan bagian dari kesusastraan Indonesia bahkan bangsa-bangsa Melayu. Lalu apa yang dimaksud dengan kesusastraan itu, bah? Abah memahami kesusasteraan sebagai sebuah karya yang indah dengan menggunakan kata-kata atau gaya bahasa tertentu. Karya yang indah baik dilihat dari keaslian, isi maupun cara mengungkapkannya.  PELAB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar