Minggu, 14 September 2014

KOLEKSI RUMAH PANTUN



Pantun ANAK RUSA

Anak rusa main di kali
Bercorak belang sampai ke ekor
Apa dosa dan salah kami
Tidak dipandang tidak ditegur
Bukan belang sembarang belang
Belang bertemu corak berseri
Bukan pandang sembarang pandang
Pandang matamu memikat hati
Salam dihatur kasih diterima
Berharap kasih terjalin mesra
Sya’ban berlalu Ramadhan menjelma
Bertekad hati jalankan puasa
nafsu dikerat hindarkan murka
pandangan mata bisikan telinga
sungguh berat jaga hubungan sesama
luaskan hati bagai semesta
Tidaklah mudah menahan diri
Apalagi mengawal nafsu diri
Bersihkan nurani luaskan hati
Selagi jiwa dikawal diri
Layani selera sebelum subuh
Kumandang maghrib tanda berbuka
Hadapi puasa dengan tabah
Memandang sang rabb dengan bertakwa
Siang bertahan menghitung waktu
Tadarus-terawih dimalam hari
Biar tenang sepanjang waktu
Terus bertasbih di dalam hati

Sabtu, 13 September 2014

8.Puisi Modern



8.
Puisi Modern





Puisi Modern merupakan puisi yang telah dipengaruhi oleh puisi Barat. Mereka dapat dibedakan dalam beberapa bentuk,

Balada,
Puisi atau sajak yang berisi kisah atau cerita bisa berbentuk Epik (epos) bisa berbentuk Lirik. Kisah cerita rakyat yang mengharukan dan kadang-kadang dinyanyikan. Kadang hanya berupa dialog. Epik atau Epos adalah syair kepahlawanan. Syairnya panjang yang menceritakan riwayat perjuangan seorang pahlawan. Epos dinamakan juga Wiracarita, cerita atau syair kepahlawanan. Mahabrata dan Ramayana contoh epos Hindu yang masuk dalam susastra lama.

Romansa,
Novel atau kisahan prosa lainnya yang memiliki ciri khas pada tindakan, kepahlawanan, kehebatan, dan keromantisan, dengan latar historis atau imajiner. Romansa juga puisi yang berisi luapan perasaan kepada sang kekasih.

Elegi,
Syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita. Biasa digelar pada acara atau peristiwa kematian. Sajak-sajaknya menggambarkan kesedihan. Mewakili suara sukma yang kehilangan orang yang dicintai. Belahan jiwa yang hilang. Batin yang terluka akibat lara hati ditinggal pergi sang kekasih hati.

Ode.
Sajak yang liriknya menyatakan pujian terhadap seseorang, benda, peristiwa yang dimuliakan, dan sebagainya. Ode merupakan sajak yang berisi pujian dan sanjungan terhadap seseorang yang berjasa besar dalam masyarakat atau pujian sanjungan terhadap seorang pahlawan.

Himne,
Nyanyian berisi puji-pujian biasa untuk Tuhan, Guru dan sebagainya. Himne sering disebut sebagai sajak religi.

Epigram,
Ungkapan pendek berbentuk syair yang mengandung gagasan atau peristiwa dan yang diakhiri dengan pernyataan menarik. Biasanya merupakan sindiran. Epigram merupakan peribahasa yang padat dan penuh kearifan dan sering mengandung paradok.  Epigram berisi ajaran hidup dan semangat perjuangan merebut hak-hak manusia. Semangat dan motivasi dalam menjalani hidup.

Satire,
Gaya bahasa yang dipakai dalam kesusasteraan untuk menyatakan sindiran atau ejekan terhadap suatu keadaan atau seseorang.  Jadi satire merupakan sajak yang berisi kritik dan sindiran yang tergolong pedas dan kasar. Kritik kerap diarahkan  terhadap kepincangan-kepicangan yang terjadi disekitar. PELAB

7.Puisi Baru



7.
Puisi Baru


1.    Sajak Dua Seuntai (Distikon), adalah jenis puisi yang setiap baitnya terdiri atas dua baris, kuplet tertutup.
2.    Sajak Tiga Seuntai (Terzina), sajak yang terdiri atas tiga baris seuntai dengan bagian rima a-b-a, b-c-b, c-d-c, d-e-d
3.    Sajak Empat Seuntai (Quantrin), sajak yang terdiri atas empat baris seuntai.Tiap bait terdiri atas 4 baris.
4.    Sajak Lima Seuntai (Quin)
5.    sajak yang terdiri atas lima baris seuntai.Tiap bait terdiri atas lima baris.
6.    Sajak Enam Seuntai (Sextet), Sajak atau bait yang terdiri atas enam larik, khususnya enam larik terkahir dalam soneta. Sektet juga sering dikaitkan dengan gubahan lagu yang dinyanyikan oleh enam penyanyi atau pemain musik, atau orkes enam orang,
7.    Sajak Tujuh Seuntai (Septima),
8.    Sajak Delapan Seuntai (Stanza atau Octaf),  rangkaian sejumlah larik, bait atau sajak yang terdiri delapan baris pada setiap baitnya.
9.    Sajak Empat Belas Seuntai (Soneta), adalah sajak yang terdiri atas empat bait. Dua bait pertama masing-masing terdiri atas empat baris. Dua bait terakhir masing-masing terdiri atas tiga baris; Sajak empat belas baris yang merupakan satu pikiran atau perasaan yang bulat.
Contoh Pola Soneta yang terdiri 14 baris.
·       (2x4) + (2x3) artinya dua bait dikali empat baris ditambah dua bait lalu dikali enam baris.
·       (2x4) + (1x6), artinya dua bait dikali empat baris ditambah satu bait lalu dikali enam baris.
·       (3x4) + (1x2), artinya tiga bait dikali empat baris ditambah satu bait lalu dikali dua baris.
·       (1x8) + (2x3), artinya satu bait dikali delapan baris ditambah dua bait lalu dikali tiga baris.
·       1x8) +  (1x4) + 2, artinya satu bait dikali delapan baris ditambah satu bait lalu dikali empat baris, kemudian ditambah dua baris
·       (1x8) + (1x6), artinya satu bait dikali delapan baris ditambah satu bait lalu dikali enam baris.
·       (1x14), satu bait dikali empat belas baris.
10.                       Sajak Bebas (Puisi Bebas). Adalah puisi yang tidak terikat oleh rima dan metrum. Juga tidak terikat dengan jumlah baris setiap bait. Tidak terikat jumlah suku kata pada setiap barisnya. Salah satu contohnya Puisi “Aku” karya Chairil Anwar.  PELAB

6.Puisi Lama (Pantun, Gurindam, Syair, Mantra dan Bidal).



6.
Puisi Lama



PUISI LAMA, sebagaimana kita bahas secara singkat tadi adalah bentuk kesusasteraan yang merupakan buah cipta masyarakat lama. Mengenai kurun masyarakat lama aku tidak begitu tahu. Puisi lama merupakan puisi yang belum dipengaruhi puisi Barat.  Karya masyarakat lama yang termasuk kategori Puisi Lama adalah pantun, gurindam, syair, mantra dan bidal.

PANTUN
Pantun adalah puisi asli masyarakat Melayu. Puisi asli anak negeri bangsa-bangsa serumpun. Bangsa-bangsa rumpun Melayu adalah Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura. Pantun merupakan puisi lama. Pantun sering juga diartikan sebagai puisi Indonesia atau Melayu, yang tiap bait atau kuplet-nya terdiri atas empat baris bersajak (a-b–a-b). Setiap larik biasanya berjumlah empat kata. Baris pertama dan kedua biasanya berperan sebagai tumpuan atau sampiran. Sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi.
            Pantun memiliki ragam-ragam seperti, pantun biasa, pantun berkait, pantun kilat, pantun rantai dan talibun.
Pantun Biasa, adalah pantun yang memenuhi syarat sebagaimana pantun biasanya, tidak memiliki ciri-ciri khusus.
Pantun Berkait adalah pantun yang diucapkan atau dibacakan sambung menyambung antara larik kedua dan keempat bait pertama muncul lagi sebagai larik pertama dan ketiga bait berikutnya. Pantun berkait dinamakan juga seloka atau pantun rantai.
Pantun Kilat, adalah pantun yang hanya terdiri atas dua baris yang bersajak (a-a), masing-masing merupakan sampiran dan isi. Pantun kilat memiliki sebutan lain yaitu karmina. Karmina merupakan pantun kilat dua seuntai. Baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi yang berupa sindiran dengan rumus rima (a-a).
Misal
 kayu lurus dalam lalang
kerbau kurus banyak tulang
Talibun, masih masuk dalam kelompok pantun, tetapi memiliki perbedaan pada jumlah baris. Talibun memiliki baris berjumlah enam, delapan sampai sepuluh baris. Jika terdiri dari enam baris, maka tiga baris merupakan sampiran dan tiga barisnya adalah isi.
            Pantun yang bersajakan (a-a) kata abah adalah pantun yang telah menjelma menjadi syair. Peristiwa ini disebabkan oleh pengaruh sastra Arab. Akan halnya puisi modern merupakan puisi bebas yang tidak terikat bunyi. Puisi modern dinamakan juga sanjak. Sanjak terlahir dari perkembangan jaman dan pengaruh dari bangsa Eropa.
            Pantun dan Puisi merupakan bagian dari kesusastraan Indonesia bahkan bangsa-bangsa Melayu. Lalu apa yang dimaksud dengan kesusastraan itu, bah? Abah memahami kesusasteraan sebagai sebuah karya yang indah dengan menggunakan kata-kata atau gaya bahasa tertentu. Karya yang indah baik dilihat dari keaslian, isi maupun cara mengungkapkannya.
Menurut Isinya Pantun dapat  dibedakan menjadi beberapa,
1.    Pantun Anak
2.    Pantun Muda
3.    Pantun Tua
4.    Pantun Jenaka
5.    Pantun Nasihat
6.    Pantun Teka-Teki
dan lain-lain.
GURINDAM
Gurindam adalah sajak dua baris yang mengandung petuah atau nasihat.
misalnya
baik-baik memilih kawan
salah-salah jadi lawan
kurang pikir kurang siasat
bisa jadi kelak tersesat
Ciri-ciri gurindam adalah :
ciri pertama, terdiri 2 (dua) baris,
ciri kedua, rima akhirnya /aa/
ciri ketiga, baris pertama merupakan syarat, baris kedua berisi akibat dari yang disebutkan baris pertama.
ciri keempat, umumnya berisi nasihat atau sindiran.

SYAIR
Syair,  berasal dari kata “syu’ur’ yang berarti perasaan.  Ada juga yang mengatakan berasal dari kata “syi’ir” sebagaimana sabda Rasulullah SAW, Sesungguhnya diantara syi’ir itu mengandung hikmah.” [1].
Syair (n) sering diartikan sebagai sajak atau puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri dari empat larik (baris) yang berakhir dengan bunyi yang sama. Syair, berasal dari bahasa Arab yang diambil dari kata sya’ara yang berarti menembang (bertembang). Bersyair berarti mengarang syair. Oleh karena syair berasal dari bahasa Arab, tidak mengherankan jika dalam syair Indonesia banyak mengandung kata-kata Arab.  Selain itu, kita juga menemukan unsur nasihat yang berisi nilai-nilai agama Islam. Syairi juga diartika sebagai karangan yang mengandung rima. Penyair adalah pengubah sajak. Syair dapat dikenali dari bentuk dan isinya.
Syair memiliki beberapa bentuk yaitu,
1.    Syair yang berbentuk dongeng;
2.    Syair yang berisikan kiasan atau sindiran;
3.    Syair yang berisi cerita atau hikayat;
4.    Syair cerita kejadian
5.    Syair yang berisi ajaran agama dan budi pekerti.
Beberapa karakteristik seputar syair adalah,
a.    Terdiri beberapa bait;
b.    Tiap bait terdiri dari empat baris;
c.     Tiap baris terdiri delapan sampai sepuluh suku kata bahkan  lebih.
d.    Semua menjadi isi;
e.    Alurnya runtut karena menggambarkan cerita
f.      Akhirannya memiliki rima, atau berirama rangkai /aaaa/
Contoh: Mungkin kamu pernah mendengarkan M.H.Ainun Hajib bersyair (Jw:syiiran) dengan Kiai Kangjeng, seperti,

“ Tombo Ati”[2]
(Obat Hati)
Allohumma shalli wa salim 'ala,
Sayyidina wa maulana muhammadin,
'Adada ma fi 'ilmillahi sholatan,
Daimatan bi dawami mughiladhi.

Tombo ati iku lima ing wernane,
(Obat hati ada lima perkara)
Kaping pisan maca Qur'an lan maknane,
(yang pertama baca Qur’an dan maknanya)
Kaping pindho dzikir wengi ingkang suwe,
(yang kedua dzikir malam tanpa alpa)
Kaping telu weteng ira ingkang luwe.
(yang ketiga seringkali berpuasa)

Kaping pate solat wengi lakonana,
(yang keempat sholat malam laksanakan)
Kaping lima wong kang sholeh kumpulana,
(yang kelima orang sholeh jadi teman)
Salah sawijine sapa bisa ngelakoni,
 (salah satunya kamu bisa melakukan)
Insya Alloh Gusti Pangeran ngijabahi.
(Insya Allah akan diridhoi Tuhan)

MANTRA
Mantra, atau mantera adalah kata yang mengandung hikmat dan kekuatan gaib. Kata-kata yang dapat menyembuhkan atau mendatangkan celaka. Susunan kata-kata mantra biasa mengandung unsur puisi seperti rima dan irama, yang mengandung kekuatan tertentu. Biasanya diucapkan oleh pawang dan dukun untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.
Macam-macam mantra:
1.    Mantra kejahatan adalah mantra yang diucapkan untuk tujuan merusak biasanya menggunakan media tertentu untuk melancarkan serangan.
2.    Mantra Keselamatan, adalah mantra yang diucapkan untuk menjaga diri dari bahaya.
3.    Mantra Penawar, mantra yang dilafalkan untuk kepentinganpengobatan.
BIDAL
Peribahasa atau bidal meliputi pepatah, ungkapan, perumpamaan, tamsil, ibarat dan pameo.
1.    Pepatah,  adalah peribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran dari orang tua-tua. Biasa dipakai atau diucapkan untuk mematahkan lawan bicara.
contoh:
tong kosong nyaring bunyinya - orang tidak berilmu banyak bualnya.
Pepatah berisi kata-kata kiasan yang dinyatakan dalam rangkaian kalimat. Yang dikiaskan ialah sesuatu tentang keadaan atau kelakuan seseorang.
2.    Ungkapan, adalah gabungan kata yang berisi kiasan tentang keadaan atau kelakuan seseorang yang dinyatakan sepatah kata sebagai bagian kalimat. Ungkapan terdiri dari gabungan kata maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya.
Contoh:
a.    Panjang tangan - (suka mencuri)
b.    Kambing hitam - (orang yang dijadikan tersangka)
c.     Ringan tangan - (suka menolong)
Penjelasan Makna yang tidak sama:
a.    Makna panjang dan tangan tidak memiliki makna yang sama dengan panjang tangan.
b.    Makna kambing dan hitam tidak memiliki makna yang sama dengan Kambing hitam.
c.     Makna ringan dan tangan tidak memiliki makna yang sama dengan ringan dan tangan
3.    Perumpamaan, adalah kalimat yang mengungkapkan keadaan, kelakuan atau sikap seseorang dengan mengambil perbandingan dari alam sekitarnya. Perumpamaan sering digunakan sebagai cara melakukan perbandingan, ibarat atau tamsil.
Contoh :
a.    bagai anak ayam kehilangan induk
b.    bagai pungguk merindukan bulan
c.     ibarat kacang lupa kulitnya
4.    Ibarat, adalah perkataan atau cerita yang dipakai sebagai umpama, perbandingan, lambing, kiasan.
contoh : aku ini ibarat burung dalam sangkar- mata terlepas badan terkurung.
5.    Tamsil, bagian dari perumpamaan, memiliki persamaan dengan ibarat. Tamsil bisa juga berupa ajaran yang terkandung dalam cerita, ibarat dan lukisan.
a.    bagai katak dalam tempurung
b.    bagai kerakap di atas batu - hidup segan mati tak mau
6.    Pameo, ialah kata-kata yang menjadi slogan popular karena sering diucapkan kembali yang sifatnya mengandung dorongan, semangat atau ejekan. contoh :
7.    Slogan, kata-kata atau kalimat pendek yang menarik, mencolok, mudah diingat. Bertujuan untuk memberitahukan sesuatu ideology golongan, organisasi, partai politik.
Contoh :   
a.    Slogan ASEAN - Hidup berdampingan secara damai.
b.    Katakan tidak pada korupsi
c.     Lebih cepat lebih baik
d.    Kalau tidak kita siapa lagi
KALIMAT BERIRAMA
Kalimat berirama adalah kalimat dalam bentuk prosa, akan tetapi di dalamnya irama puisinya sangat kental.[]


[1] yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab,(HR.Baihaqi)
[2] E:\DATA PRIBADI\ABILMN\MODUL DAN CD SMPT\MODUL SMPT\KELAS 9Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas IX hlm,68