1.
Leganya si Legawa
Ngaranku, Ahmad
Asyifa Adi Mausu Legawa Nugraha, panjang ya? Tapi jangan khawatir, biar kamu agak
lega aku siapkan nama pendek. Panggil
saja aku Lega. Oke? Ya..., panggil saja Lega. Aku anak tunggal dari empat bersaudara,
eh maaf... he he bercanda maksudku anak ketiga. Umurku 10 tahun, aku serdik kelas 6 di SDN
Penyelenggara Pendidikan Inklusi dekat rumahku. Saudara pertamaku Kak Mauda (16
tahun) duduk di kelas 12 Madrasah Aliyah dan kak Sultan (13 tahun) duduk di
kelas 9 Madrasah Tsanawiyah, keduanya bersekolah di pondok pesantren terkemuka
di kotaku, Amuntai-Kalimantan Selatan. Dan kenalkan Ka Aden (5 tahun) TK Besar,
dia adikku tapi jangan coba-coba memanggil dia adik. Dia adikku yang terobsesi
menjadi kakak. Jadi kami semua harus lega mengakuinya sebagai kakak.
Pantun Edu Legawa Anak Borneo, adalah
karya Abah yang terinspirasi dari rasa ingin tahuku pada pantun yang mendidik. Saat beliau sedang menyiapkan naskah untuk
buku-bukunya, aku sering mendekat dan bertanya,
” Lagi nulis
pantunkah bah?”. sambil melihat monitornya.
”Nanti nak lah,
selesai naskah Dewa Tanda,” jawabnya seakan merasa bersalah. Maksudnya - “Petualangan Dewa Tanda di Hunian Purba
Kalimantan.” (Kisah petualangan kami di Hunian Purba Kalimantan), naskah yang beliau
janjikan setelah buku,”Ngaranku Sultan, The Journey of South Borneo Island with
Legawa.”
(Kisah
petualangan kami di Pulau Borneo)
Sesekali ketika beliau menulis aku
mendekat dan berharap beliau menulis tentang pantun. Namun setiap aku mendekat
beliau selalu lagi merampungkan naskah-naskah lain. Memang Abah tergolong
memiliki kebiasaan unik dalam hal menulis. Beliau sering berpindah-pindah dari
naskah satu ke naskah lain. Aku lihat tidak kurang dari lima judul naskah. Mengapa
begitu? Ketika ku tanya jawabnya santai,
“Menulis itu
dampak dari kebiasaan membaca. Ketika membaca berlangsung kadang ide pun
bermunculan itulah saatnya menulis. Termasuk ketika membaca suatu keadaan ,
kejadian atau peristiwa. Abah tidak ingin membiarkan ide-ide tersebut hilang
begitu saja. Tidak ada pilihan lain
kecuali menuliskan, sambil melakukan literasi istilah Abah, untuk mencari data
dan fakta pendukung tulisannya.”
Suatu hari, tepatnya Senin, 9 Desember
2013 lalu, Abah memperlihatkan sampul buku ini. “InsyaAllah sebentar lagi buku
ini akan rampung, mungkin susul menyusul dengan buku-buku “Fun Test di Kelas
Sehat, dan “Rapot Merah Guru Profesional,” juga “Petualangan Dewa Tanda di
Hunian Purba Kalimantan,” buku karya Adinda,”Grafia Pemula.” tantang Abah agar aku
segera menulis buku sendiri. Seperti
yang sedang dilakukan adikku Aden. Memang Abah sering mengajak kami untuk
menulis. Menulis apa saja yang kami sukai. Apalagi ketika Abah mengetahui kami suka
membeli atau meminjam banyak buku dan
melahapnya dalam waktu singkat.
Kak Mauda sudah memulainya dengan
beberapa naskah begitu juga dengan Ka Sultan, terakhir Adikku Aden yang baru
duduk di kelas TK Besar. Dia mulai sering mendekati Abah dan mendektikan
karyanya. Sementara aku belum satu pun naskah tertulis. Aku tidak tahu dari
mana harus memulainya. Apa yang harus aku tulis?
Harusnya kami merasa beruntung karena
beberapa buku Abah, tokoh-tokohnya terinspirasi dari aktivitas dan kebiasaan
kami. Mengapa tidak aku bolak, eh balik saja sekarang. Abah dan mama yang
menjadi inspirasi dalam tulisanku nanti. Aa haa leganyaaa.[PELAB]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar