Sabtu, 13 September 2014

1.Leganya si Legawa



1.
Leganya si Legawa



Ngaranku, Ahmad Asyifa Adi Mausu Legawa Nugraha, panjang ya? Tapi jangan khawatir, biar kamu agak lega aku siapkan nama pendek.  Panggil saja aku Lega. Oke? Ya..., panggil saja Lega. Aku anak tunggal dari empat bersaudara, eh maaf... he he bercanda maksudku anak ketiga.  Umurku 10 tahun, aku serdik kelas 6 di SDN Penyelenggara Pendidikan Inklusi dekat rumahku. Saudara pertamaku Kak Mauda (16 tahun) duduk di kelas 12 Madrasah Aliyah dan kak Sultan (13 tahun) duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah, keduanya bersekolah di pondok pesantren terkemuka di kotaku, Amuntai-Kalimantan Selatan. Dan kenalkan Ka Aden (5 tahun) TK Besar, dia adikku tapi jangan coba-coba memanggil dia adik. Dia adikku yang terobsesi menjadi kakak. Jadi kami semua harus lega mengakuinya sebagai kakak.
          Pantun Edu Legawa Anak Borneo, adalah karya Abah yang terinspirasi dari rasa ingin tahuku pada pantun yang mendidik.  Saat beliau sedang menyiapkan naskah untuk buku-bukunya, aku sering mendekat dan bertanya,
” Lagi nulis pantunkah bah?”. sambil melihat monitornya.
”Nanti nak lah, selesai naskah Dewa Tanda,” jawabnya seakan merasa bersalah. Maksudnya -  “Petualangan Dewa Tanda di Hunian Purba Kalimantan.” (Kisah petualangan kami di Hunian Purba Kalimantan), naskah yang beliau janjikan setelah buku,”Ngaranku Sultan, The Journey of South Borneo Island with Legawa.”  
(Kisah petualangan kami di Pulau Borneo)
          Sesekali ketika beliau menulis aku mendekat dan berharap beliau menulis tentang pantun. Namun setiap aku mendekat beliau selalu lagi merampungkan naskah-naskah lain. Memang Abah tergolong memiliki kebiasaan unik dalam hal menulis. Beliau sering berpindah-pindah dari naskah satu ke naskah lain. Aku lihat tidak kurang dari lima judul naskah. Mengapa begitu? Ketika ku tanya jawabnya santai,
“Menulis itu dampak dari kebiasaan membaca. Ketika membaca berlangsung kadang ide pun bermunculan itulah saatnya menulis. Termasuk ketika membaca suatu keadaan , kejadian atau peristiwa. Abah tidak ingin membiarkan ide-ide tersebut hilang begitu saja.  Tidak ada pilihan lain kecuali menuliskan, sambil melakukan literasi istilah Abah, untuk mencari data dan fakta pendukung tulisannya.”
          Suatu hari, tepatnya Senin, 9 Desember 2013 lalu, Abah memperlihatkan sampul buku ini. “InsyaAllah sebentar lagi buku ini akan rampung, mungkin susul menyusul dengan buku-buku “Fun Test di Kelas Sehat, dan “Rapot Merah Guru Profesional,” juga “Petualangan Dewa Tanda di Hunian Purba Kalimantan,” buku karya Adinda,”Grafia Pemula.” tantang Abah agar aku segera menulis buku sendiri.  Seperti yang sedang dilakukan adikku Aden. Memang Abah sering mengajak kami untuk menulis. Menulis apa saja yang kami sukai. Apalagi ketika Abah mengetahui kami suka membeli atau meminjam  banyak buku dan melahapnya dalam waktu singkat.
          Kak Mauda sudah memulainya dengan beberapa naskah begitu juga dengan Ka Sultan, terakhir Adikku Aden yang baru duduk di kelas TK Besar. Dia mulai sering mendekati Abah dan mendektikan karyanya. Sementara aku belum satu pun naskah tertulis. Aku tidak tahu dari mana harus memulainya. Apa yang harus aku tulis?
          Harusnya kami merasa beruntung karena beberapa buku Abah, tokoh-tokohnya terinspirasi dari aktivitas dan kebiasaan kami. Mengapa tidak aku bolak, eh balik saja sekarang. Abah dan mama yang menjadi inspirasi dalam tulisanku nanti. Aa haa leganyaaa.[PELAB]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar